Joe Millionaire Indonesia

Dari Rangkuman Roy Suryo Watch , ensiklopedi bebas

Kutipan

Pada sekitar tanggal 11 April 2005, Roy Suryo menyebarkan fax ke beberapa media massa yang berisi:

Joe Millionaire dan 'Kartini-kartini Indonesia'

Pertama-tama perlu disampaikan sebelumnya, bahwa meski saya tercatat sebagai Anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (KPID-DIY), namun dalam hal ini saya menulis dalam kapasitas selaku pribadi, hanya seorang masyarakat pemirsa televisi biasa, yang cukup terusik dengan tayangan benama "Joe Millionaire Indonesia" (JMI) di salahsatu TV swasta, RCTI.

Setelah berulangkali mencoba memahami tayangan yang disebut-sebut- "mega reality show" tersebut, saya berani menarik asumsi bahwa tayangan JMI ini seperti semakin tidak memiliki konsep yang jelas, cenderung tidak mendidik positif, bahkan tampak menjual beberapa kepalsuan prinsipal. Sangat berbeda dengan tayangan-tayangan "reality" lainnya di layar televisi Indonesia, mulai dari AFI, Indonesian Idol, KDI, Indonesian Star, Penghuni Terakhir, sampai ke API, dsb, saya bahkan sangat menyayangkan RCTI sebagai televisi swasta pertama dan tertua di Indonesia, seperti "kecolongan" mengadopsi tayangan yang aslinya disiarkan oleh Jaringan Televisi Fox di Amerika tersebut.

Mulai dari sosok "Joe" yang digambarkan sebelumnya sebagai seorang milyuner beraset 50M, datang ke lokasi villanya naik helikopter, sebenarnya bernama asli Marlon dan profesi sehari-harinya seorang peselancar, ini sudah merupakan kepalsuan prinsipal. Sangat berbeda dengan kondisi aslinya di Amerika dimana memang Joe (baca: asli) adalah seorang milyuner sebenarnya dan berniat untuk memilih pasangan dengan "membeli" acara JM tersebut, bahkan (maaf) bisa mengajak kencan para wanita kontestan sebelumnya. Jadi kapasitas dan kompetensi Marlon di JMI ini pantas diragukan, karena dia bisa seenak-enaknya memilih secara subyektif tanpa memperhatikan ribuan bahkan jutaan SMS pemirsa yang terbuang percuma, karena apapun yang diketik oleh para pengirim SMS tersebut sebenarnya hanya digunakan untuk undian, alias tidak mempengaruhi penilaian JMI oleh Marlon.

Episode-episode selanjutnya semakin menampakkan "kebingungan arah" dari JMI ini, dimana sempat dibuat edisi Baywatch dengan sessi foto-fotoan di pinggir pantai. Dimana meski melibatkan fotografer professional dengan kamera professional sehari-harinya (Canon 1Ds), sessi pemotretan di pinggir pantai tersebut tampak terlalu dipaksakan untuk tayangan bercitra Indonesia.

Kebingungan arah JMI ini semakin nampak pada episode Sabtu (09/05) kemarin, dimana menampilkan seorang narasumber artis senior pecinta lingkungan, tetapi malah diminta memberikan materi soal "character building", yangmana seharusnya disampaikan oleh seorang psikolog atau setidaknya seorang yang mendalami masalah tersebut, jadi dalam hal ini artis senior tersebut justru "disalahtempatkan". Oleh karena itu, sejalan dengan peringatan emansipasi wanita yang marak diselenggarakan April ini untuk mengenang kembali sosok RA Kartini, saya sekalilagi selaku pribadi- menghimbau agar lain kali RCTI bisa semakin selektif dalam menerima usulan acara sebelum menayangkannya.

Sayang sekali citranya sebagai stasiun televisi pertama di Indonesia, bahkan sukses menggelar Indonesian Idol yang menghasilkan penyanyi-penyanyi kebanggaan bangsa, memiliki acara "tak jelas" semacam JMI. Himbauan saya juga untuk para "kartini-kartini Indonesia masa kini", mungkin dapat memilih kegiatan yang lebih produktif, elegan dan bermanfaat, setidaknya memberikan citra positif Indonesia kepada masyarakat, dengan kata lain tidak mudah terbuai hanya latah mengikuti "reality show", apalagi yang penilainya bisa cenderung subyektif, tidak memiliki kompetensi, bahkan menjual kepalsuan belaka.

Sekian dan terimakasih. Semoga tayangan TV Indonesia bisa lebih cerdas dan emansipatif

KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Jl. Magelang Km. 5 No. 8, Jogja 55284

Sanggahan

Menurut Roy SUryo: Mulai dari sosok 'Joe' yang digambarkan sebelumnya sebagai seorang milyuner beraset 50M, datang ke lokasi villanya naik helikopter, sebenarnya bernama asli Marlon dan profesi sehari-harinya seorang peselancar, ini sudah merupakan kepalsuan prinsipal. Sangat berbeda dengan kondisi aslinya di Amerika dimana memang Joe (baca: asli) adalah seorang milyuner sebenarnya dan berniat untuk memilih pasangan dengan 'membeli' acara JM tersebut, bahkan (maaf) bisa mengajak kencan para wanita kontestan sebelumnya.

Sedangkan pada acara Joe Millionaire versi Amerika, sang 'Joe' juga bukan bernama Joe, tapi adalah Evan Marriott (http://primetimetv.about.com/od/joemillionaire/) yang bekerja sebagai pekerja konstruksi dengan gaji yang hanya kurang lebih $19000 per tahun. Evan juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai model pakaian renang (http://www.realitytvworld.com/index/articles/story.php?s=846).

Menurut Roy Suryo: Jadi kapasitas dan kompetensi Marlon di JMI ini pantas diragukan, karena dia bisa seenak-enaknya memilih secara subyektif tanpa memperhatikan ribuan bahkan jutaan SMS pemirsa yang terbuang percuma, karena apapun yang diketik oleh para pengirim SMS tersebut sebenarnya hanya digunakan untuk undian, alias tidak mempengaruhi penilaian JMI oleh Marlon.

Sedangkan RCTI jelas-jelas mengatakan bahwa SMS tidak digunakan untuk polling. SMS hanya digunakan sebagai kuis bagi pemirsa untuk menebak kontestan mana yang akan tereliminasi.

Alat pribadi