Soal Menghapus Jejak, Tommy Lebih Canggih

Dari Rangkuman Roy Suryo Watch , ensiklopedi bebas

Dari [1] (http://www.sinarharapan.co.id/berita/0211/25/sh04.html):

Perburuan terhadap Imam Samudra, tersangka otak pengeboman di Legian, Bali, ternyata tidak serumit yang dibayangkan.

”Tidak menggunakan satelit seperti berita terakhir yang disiarkan dari Australia. Tidak secanggih itu peralatan yang digunakan,” tutur Roy Suryo kepada SH, Sabtu (23/11) siang, di Yogyakarta. Di sisi lain, aparat penegak hukum kini juga harus memahami alibi bisa diperdaya oleh kecanggihan teknologi.

Menurut Roy, peralatan yang digunakan untuk melacak posisi Imam Samudra sama persis dengan alat yang digunakan untuk melacak Tommy Soeharto ketika diburu petugas kepolisian pada waktu lalu.

”Apalagi tim yang memburu Tommy maupun Imam Samudra itu sama, yakni masih di bawah pimpinan Gorrys Mere. Jadi, perburuan itu melalui telepon selular yang digunakan Imam alias Abdul Aziz. Di sini polisi melalui prosedur resmi bekerja sama dengan operator telepon, termasuk di dalamnya juga bekerja sama dengan tim dari Australian Federal Police. Jadi itu merupakan tim gabungan,” ujarnya.

Pelacakan menggunakan alat Digital Selular Interceptor itu dikembangkan setelah penangkapan terhadap Amrozi. Dari telepon selular yang dibawa Amrozi itu dikembangkan terus data-datanya. Dari sana kemudian diperoleh nomor IMSI (identifikasi nomor telepon selular).

”Di sini, pihak Australian Federal Police bisa mengunci nomor yang dipakai Imam Samudra. Oleh karena itu, di mana dia berada selalu bisa diketahui lokasinya,” ujarnya.

Tommy Lebih Canggih

Sebenarnya dalam usaha menghilangkan jejak diri, apa yang dilakukan Imam Samudra jauh lebih sederhana dibandingkan Tommy Soeharto.

”Imam hanya punya telepon selular kurang dari 10 buah dengan 10 nomor yang berbeda. Akan tetapi, Tommy bisa memiliki 70 telepon selular dengan berbagai nomor yang banyak pula,” kata Roy.

Di sisi lain, pelacakan keberadaan tersangka itu sebenarnya juga bisa dilakukan dengan melacak keberadaan perangkat telepon selular itu sendiri. Jadi secara hardware, setiap telepon selular punya nomor identifikasi yang disebut IMEI. Telepon selular itu diketahui keberadaannya dengan peralatan yang dipunyai tim gabungan tersebut.

Roy pun menjelaskan, usaha Imam Samudra menggunakan sarana internet untuk menjalin komunikasi dengan rekan-rekannya sebenarnya juga mudah diketahui. Bahkan dengan cara menggunakan pelacakan lewat teknologi, keberadaan Imam pun mudah diketahui. Termasuk di dalamnya adalah alamat email Imam, termasuk alamat rekan-rekannya yang dihubungi, bahkan juga pesan-pesan Imam.

Dengan cara tracing (penjejakan) lewat Internet Protocol Tracing maka bisa diketahui dari warnet mana tersangka menjalin komunikasi. Setidaknya lokasinya diketahui. Jika warnet itu ternyata digunakan banyak orang; sebenarnya ruang gerak tersangka makin dipersempit.

Soal melongok isi email yang dikirim Imam, kata Roy, bisa dilakukan retracing. ”Tapi waktunya memang terbatas. Sekitar yang ditulis dalam waktu seminggu saja. Setelah itu biasanya servernya menghapus dengan sendirinya,” tuturnya.

Internal Detonator

Melihat cara pengeboman di Legian, Bali; jika peralatan yang digunakan dengan telepon selular; maka ada dua kemungkinan, yakni menggunakan internal detonator atau eksternal detonator.

”Untuk internal detonator, ponsel itu bisa diset pada jam tertentu bergetar. Dari getaran itu kemudian menjadi pemicu detonator sehingga bom itu meledak. Cara itu adalah dengan menghitung mundur, baik dengan alarm maupun getaran,” ujar Roy.

Sementara dengan menggunakan cara eksternal adalah ada ponsel yang disatukan dengan perangkat bom, dan untuk memicu aktifnya detonator maka ada yang menghubungi ponsel itu. Begitu ponsel di bom itu aktif, maka bom akan meledak.

”Maka, dalam mengungkap kasus besar ini, jangan sampai terjebak pada alasan alibi. Sebagai contoh ketika bom meledak di Bali, karena tersangka tidak berada di dekat lokasi pengeboman, maka itu tidak terbukti. Teknologi bisa mengatasi semua itu. Jadi alibi itu harus dipertanyakan. Kemajuan teknologi membuat pengeboman bisa dilakukan dari jarak sangat jauh,” jelas Roy. (djo)

Alat pribadi