Teknologi Pencari Harta Karun

Dari Rangkuman Roy Suryo Watch , ensiklopedi bebas

Sumber: [1] (http://www.arkeologi.net/index1.php?id=view_news&ct_news=434)

Karena secara disiplin ilmu penulis tidak berkompeten dengan sejarah -apalagi jika dihubungkan kepada hal-hal yang irrasional-, tulisan ini tidak mencari pro kontra lagi, tetapi ditujukan untuk lebih memberikan kontribusi pemikiran tentang tindak lanjut pencarian harta karun itu (bila memang ada). Atau, justru bisa dikembangkan untuk eksplorasi tempat-tempat lain di Indonesia secara ilmiah. Bagaimanapun di Indonesia masih sering ditemukan banyak situs peninggalan sejarah mulai zaman prasejarah.

Beberapa waktu lalu saya menulis di media lokal tentang penggunaan ground penetrating radar (GPR) atau dikenal dengan istilah "georadar" -seperti yang sempat sukses digunakan untuk menemukan bunker Tommy di bawah Cendana- untuk mencari terowongan-terowongan di Jogja.

Dari asal kata geo & radar itu, geo berarti bumi atau tanah, sedangkan radar merupakan singkatan dari radio detection and ranging. Jadi, arti harfiahnya adalah alat pelacak bumi dengan menggunakan gelombang radio. GPR merupakan metode yang memiliki spesialisasi untuk eksplorasi dangkal (nearsurface geophysics) dengan ketelitian (resolusi) yang amat tinggi, sehingga mampu mendeteksi benda sasaran bawah permukaan hingga benda yang berdimensi beberapa cm sekali pun.

Berbeda dengan metode seismik yang menggunakan sumber gelombang mekanik (getaran medium) seperti pukulan palu, ledakan mercon, dan bom, GPR merupakan salah satu metode geofisika yang menggunakan sumber gelombang elektromagnetik.

Karena itu, GPR tergolong metode geofisika tidak merusak (nondestructive). Kelebihan lain GPR adalah biaya operasionalnya yang rendah, prosedur pengerjaan mudah, dan ketelitian sangat tinggi. Kelemahannya, daya tembus metode ini hanya sampai puluhan meter. Itulah sebabnya, metode ini bisa dikatakan cocok untuk pencarian situs (atau harta karun), namun dengan catatan: bilamana tempat tersebut sudah diyakini benar.

GPR bekerja dalam daerah radar, yaitu yang berfrekuensi di atas 10 Hz atau yang bersesuaian dengan panjang gelombang lebih kecil dari 30 m. Karena panjang gelombang itu mencerminkan ukuran minimum benda yang dapat terdeteksi, makin tinggi frekuensi makin kecil panjang gelombang, sehingga makin kecil ukuran benda yang dapat terdeteksi (makin tinggi pula ketelitiannya). Hasil pencitraan GPR bisa memunculkan informasi semacam ketebalan permukaan aspal jalan, jalur pipa bawah tanah untuk mencari bedrock yang pas guna fondasi bangunan, hingga mencari mayat hilang dan fosil-fosil arkeologis.

Metode geofisika sendiri sebetulnya cukup banyak dan masing-masing mempunyai kegunaan sesuai karakteristik material yang dicari. Misalnya, perusahaan minyak menggunakan metode seismik (getaran) untuk mencari jebakan minyak, perusahaan tambang emas menggunakan metode kelistrikan (geolistrik) untuk mencari urat-urat emas, metode kemagnetan bumi (geomagnet) untuk mencari logam, hingga metode gaya berat (gravity) untuk keperluan eksplorasi pada daerah luas (regional).


Seperti dijelaskan di awal, radar memancarkan semacam gelombang elektromagnet yang kemudian ditangkap balik oleh sensor alat. Spektrum frekuensi yang digunakan disesuaikan kebutuhan pengukurannya. Gelombang yang dipancarkan adalah gelombang pendek (mikro) agar bisa terpenetrasi ke bawah permukaan bumi. Respons data yang diterima diolah berdasarkan hukum pantulan (refleksi) dan pembiasaan (gelombang).

Tentu saja banyak hal yang mempengaruhi penjalaran (propagasi) gelombang, seperti efek doppler. Penyimpangan-penyimpangan terukur inilah yang justru akan menjelaskan susunan lapisan di bawah permukaan yang akan dianalisis dengan menggunakan komputer.

Secara keseluruhan, alat GPR berbobot tidak lebih dari 5 kg, sehingga sangat leluasa bergerak. Alat ini bekerja dengan dua antena. Yang satu berfungsi sebagai transmitter, yaitu bertugas memancarkan gelombang radar. Sedangkan yang lain sebagai receiver, bertugas menerima gelombang radar yang dipantulkan oleh bahan-bahan di sekelilingnya yang kemudian diolah grafiknya ke dalam sebuah komputer.

Di sisi teknologi yang lain, kalau situs Majapahit saja bisa difoto satelit kemudian dipindai dan dicitrakan secara digital untuk ditemukan aliran-aliran sungai atau jalur bawah tanah di antaranya, mengapa hal yang sama tidak dilakukan di situs Batutulis itu?

Kalau kemudian muncul alasan klasik dana yang menjadi kendala eksplorasi GPR, sebetulnya ada metode geofisika lain yang sederhana untuk melacak struktur bawah permukaan semacam ini, sehingga (bila memang benar ada) keberadaan situs atau benda-benda bersejarah tidak hilang begitu saja. Metode sederhana ini cukup dengan menggunakan metode seismik bias (refraksi). Alatnya pun tak terlalu rumit. Hanya seperangkat prosesor seismik, sensor penerima (geophone) dan sumber getaran yang biasanya berupa palu. Jelas peralatan-peralatan ini mudah diperoleh. Metode sederhana ini pernah digunakan tim geofisika FMIPA UGM untuk mencari candi-candi yang diduga terpendam di seputaran Candi Prambanan dan terbukti cukup efektif.

Karena itu, sangat disayangkan bila di zaman modern ini pencarian artefak atau situs semacam tidak dilakukan eksplorasi lebih mendalam yang melibatkan pihak-pihak kompeten dan teknologi terkait yang dimungkinkan kontribusinya. Pihak-pihak yang berkompeten pun seharusnya juga sudah langsung memberikan wacana yang ilmiah sebelum telanjur ada yang terjun menuju lokasi atau malah berkonsultasi dengan pihak-pihak yang kurang kredibel dan bisa menyesatkan.

KRMT Roy Suryo, ahli teknologi multimedia.

Alat pribadi