Apa dan Bagaimana MIDI
Dari Rangkuman Roy Suryo Watch , ensiklopedi bebas
| Daftar isi |
Kutipan
Dari [1] (http://64.233.187.104/search?q=cache:OqUYoilYrJkJ:www.wawasandigital.com/detail_roy.asp%3Fid%3D14898%26kat%3D32+%22roy+suryo%22+parabola&hl=en&start=17&ie=UTF-8):
Perangkat MIDI (Musical Instrument Digital Interface) memang bukan lagi barang baru di Indonesia. Hampir setiap musisi negeri ini sudah memanfaatkan kecanggihan MIDI tersebut, beberapa diantaranya yang dikenal mempelopori penggunaannya adalah musisi-musisi ternama,, seperti Fariz RM, KLa Project, Indra Lesmana, Harry Roesli, dsb. MIDI memang sangat membantu kerja kreatif dan mengangkat musisi-musisi tersebut, karena perangkat tersebut dapat men-sampling (mengambil ?contoh? nada), hingga men-squenzing (me?nata? dan meng-?urut?-kan nada-nada ini) menjadi sebuah lagu / komposisi musik yang menarik.
Namun sebenarnya mulai kapankah MIDI tersebut menjadi populer di dunia ? Untuk mengetahui hal tersebut --bukan berarti mau sekedar romantisme masa lalu-- kita mesti mengingat saat-saat tempo doeloe dimana belum jamannya komputer IBM-PC merajai pasaran seperti sekarang ini. Di masa-masa lalu, sekitar sebelum tahun 1980 tersebut, komputer Commodore-64 (disebut demikian karena kapasitas memory-nya ?hanya? 64 byte, bandingkan dengan sekarang yang rata-rata sudah 512 Megabyte bahkan 1 Gigabyte) dan Apple IIGS, sejak diperkenalkan saat itu telah ?mengandung? Chip khusus untuk penimbul suara / instrumen tertentu, sehingga komputer tersebut telah berfungsi sebagai synthesizer-music (pembuat musik sintesis atau buatan). Untuk sekedar informasi saja, teknologi elektronik dalam dunia musik sebenarnya juga sudah mulai dipikirkan jauh-jauh hari sebelumnya, alias sekitar tahun 70-an.
Gagasan musik sintesis tersebut akhirnya lebih terpacu sejak musisi Robert A Moog membuat instrument musik yang sekarang dikenal dengan nama Moog-synthesizer, dimana melalui tuts-tuts sintesiser tersebut seorang musisi bisa menciptakan suara apa saja, mulai gitar, terompet, biola dan bahkan suara-suara lainnya yang belum dikenal. Dari ide itulah kemudian muncul teknologi sampling di atas, dimana dapat ?memasukkan? suara-suara dari luar dan akhirnya dipadukan ke dalam alat yang disebut dengan nama Composer / Sequenzer. Perangkat yang terakhir inilah yang merekam data-data digital dari musik tersebut untuk selanjutnya dimainkan kembali pada saat pentas atau pada kesempatan berikutnya, sehingga dengan demikian dapat diciptakanlah sebuah orkestra cukup dengan menggunakan satu sintesiser, karena didalamnya bisa menampung hingga bermacam-macam jenis suara dan dimainkan secara bersama-sama.
Setelah melalui sebuah ?proses panjang? yang cukup rumit, David Smith (perusahaan Sequential Circuit) dan Chet Wood dalam Konvensi masyarakat Rekayasa si New York tahun 1981 dan Konvensi Asosiasi Nasional Pedagang Musik tahun 1982 di Amerika Serikat mencoba untuk mengusulkan dibuatnya suatu standar MIDI yang baku. Dimana akhirnya standar MIDI sendiri baru dikeluarkan secara resmi pada bulan Agustus 1983, setelah semenjak awal tahun 80-an tersebut beberapa perusahaan musik-elektronik raksasa (Yamaha, Roland, Moog, dsb) bersepakat untuk membuat standarnya. Dengan adanya MIDI tersebut, data-data yang berupa pulsa elektronik (digital) disalurkan lewat semacam ?interkoneksi? antara satu instrumen dan instrumen yang lain dengan leluasa, yang selanjutnya direkam ke dalam suatu alat yang disebut micro-composer.
Pada awalnya peranan komputer yang dimaksud sebenarnya adalah micro-computer / chip yang sudah ada (built-in) di dalam suatu keyboard MIDI-nya sendiri, bukan berbentuk komputer seperti PC sekarang ini, jadi waktu itu Monitor-nya langsung ditancapkan pada keyboardnya. Perangkat keyboard MIDI yang banyak dijumpai di Indonesia dan dikenal baik oleh para musisi kita (bahkan beberapa diantaranya tetap dipakai hingga sekarang ini) misalnya saja adalah Yamaha DX-5, DX-7, Roland D-50, D-5, S-50, dsb. Keyboard-keyboard ini bahkan sempat menjadi ?impian? seorang calon musisi untuk memiliki, karena (konon) dapat meninggikan gengsinya. Sekarang ini sebenarnya rata-rata setiap keyboard yang dijual dipasaran termasuk buatan China yang dijual di pinggir-pinggir jalan berdampingan dengan mobil radio-control, misalnya di pinggiran Plaza Simpang Lima Semarang- juga sudah memiliki koneksi MIDI untuk interkoneksinya tersebut.
Semenjak IBM mulai mengeluarkan Card tambahan yang disebut sebagai IBM Music Feature untuk dipasang di PC di akhir tahun 1983, mulai marak-lah komputer (PC) tersebut dimanfaatkan sebagai salahsatu komponen dari peralatan MIDI. Dimana card yang saat pertamakalinya hanya menggunakan jalur data 8-bit tersebut sudah dapat disambungkan ke keyboard MIDI dengan menggunakan koneksi MIDI-In, MIDI-Out dan MIDI-Thru dengan standar Roland MPU-401. Software-software MIDI perintis saat itu antaralain adalah Yamaha Composer, ECS Beginner Musician Series, ConcertMaster, Music Construction Set, dsb. Kesemuanya rata-rata adalah mendayagunakan PC sebagai alat untuk men-sequenzing nada-nada yang telah dihasilkan oleh MIDI keyboard. Berturut-turut setelah itu perusahaan-perusahaan alat musik kelas dunia, seperti Roland dan Voyetra, membuat perangkat MIDI yang kompatibel dengan PC tersebut. Demikian juga dengan software-software MIDI yang muncul berikutnya, seperti Sequencer Gold, Cakewalk Professional, Southworth Total Music, Turtle Composer, dsb. Apalagi semenjak Sound-Card standar untuk dunia PC (baca: Sound-Blaster) juga ?terjun? dalam bisnis ini, dengan turut memproduksi peripheral yang kompatibel dengan standar MIDI tersebut, mulai dari Card 8-bit (Mono), Card 16-bit (Stereo), Card 32-bit, MIDI-Box, MIDI Connector, MIDI Cable, hingga kepada MIDI Keyboard-nya sendiri.
Seperti diketahui, produsen SoundBlaster memang terkenal sangat progresif dalam pembuatan peripheral untuk PC ini, mulai dari Sound Blaster, Video Blaster, MIDI Box Connector, Modem Blaster, hingga ke Keyboard Blaster tersebut. Beberapa alat yang dapat digunakan untuk memperbaiki kemampuan MIDI sekarang-pun banyak dijumpai di pasaran, diantaranya adalah MIDI Thru Box, MIDI Patch Bay, MIDI Data Exchange dan kemampuan dalam Komputer / PC-nya sendiri. Dengan semakin berkembangnya jaman dan kemajuan teknologi sekarang ini, beberapa kelemahan MIDI di masa lalu (seperti MIDI Low-access transmission, MIDI Stuck dan MIDI Choke, seperti yang sering dikeluhkan oleh musisi-musisi MIDI Indonesia beberapa waktu yang lalu) sudah pula dapat diminimalisir sebesar mungkin dengan peralatan baru yang menggantikannya.
Kehadiran teknologi MIDI sempat juga menimbulkan ?pro? dan ?kontra? untuk sebagian musisi di Indonesia, dimana ada kalangan yang menganggapnya sebagai ?bencana? karena seseorang dapat tiba-tiba menjadi musisi terkenal dengan bantuan MIDI ini, sementara kalangan yang lain menganggapnya semata-mata sebagai kemajuan teknologi yang harus diupayakan penguasaannya. Memang dapat dikatakan bahwa seorang awam yang telah membeli SoundCard yang dilengkapi dengan MIDI Connector dan menghubungkan MIDI Keyboard-nya dengan PC dapat memulai ?dunia baru?-nya ini. Meski sebenarnya harus diingat bahwa bakat dan kemampuan seni musiknya sangat berpengaruh untuk dapat berkreasi secara maksimal dengan perangkat MIDI-nya tersebut, jadi tidak sebegitu saja ia terus menjadi seorang musisi yang handal.
Analogi di atas juga berlaku untuk bidang-bidang lainnya yang juga mendapatkan kontribusi dari perangkat komputer, seperti misalnya Dunia Grafis, Fotografi dan Audio-Visual, dimana kini teknologi komputer (multimedia) benar-benar ?merasuki? bidang-bidang tersebut. Hanya saja sekalilagi yang harus diingat bahwa komputer sebenarnya hanyalah sebuah alat, dimana bakat dan kemampuan pribadi secara individualnyalah yang paling berkompeten. Seseorang yang memang belum pernah bermain musik jangan bermimpi menjadi musisi yang handal setelah ia menggunakan MIDI ini, demikian juga seseorang yang belum pernah memotret sama sekali juga jangan berharap banyak ia akan menjadi pakar fotografi digital setelah memegang peralatan tersebut, apalagi seseorang yang belum mengerti soal Audio-Visual yang langsung terjun ke On-line Editing. Oleh karena itu bijaklah dalam menggunakan teknologi ...
Sanggahan
Commodore-64
...komputer Commodore-64 (disebut demikian karena kapasitas memory-nya "hanya" 64 byte, bandingkan dengan sekarang yang rata-rata sudah 512 Megabyte bahkan 1 Gigabyte)'
Menurut Situs Oldcomputers.net (http://oldcomputers.net/c64.html), Commodore 64 disebutkan memiliki RAM 64 kilo byte, bukan hanya 64 byte.
Squenzing
.. hingga men-squenzing (me"nata" dan meng-"urut"-kan nada-nada ini)
Kata ini tidak dikenal dalam bahasa Inggris, seharusnya adalah sequencing dari kata dasar sequence (http://dictionary.reference.com/search?q=sequencing)
Artikel ini belum lengkap. Apabila anda memiliki informasi lebih lengkap, silakan dilengkapi (http://rangkuman.roysuryowatch.org/index.php?title=Apa_dan_Bagaimana_MIDI&action=edit)
sampling
dulu waktu kasus aryanti, roy menjelaskan kulit aryanti menyerap sinar flash lebih banyak dari kulit gus dur, sehingga aryanti tampak lebih terang, padahal keduanya berada dalam posisi yang berdekatan.
saya ulangi lagi: aryanti lebih terang karena dia lebih banyak menyerap sinar.
tidak usah pakar fotografi, seorang anak smp juga tahu bahwa manusia bisa melihat benda karena benda tersebut memantulkan sinar ke mata manusia. manusia bisa bedain kucing item sama kucing putih karena yang putih memantulkan sinar lebih banyak, sementara yang item menyerap lebih banyak. justru berangkat dari konsep itulah maka muncul teknologi fotografi. bahwa yang namanya film memang sengaja dibuat peka cahaya.
kasarnya, kalao memang betul aryanti menyerap sinar lebih banyak, maka foto yang dihasilkan berupa gus dur lagi pangkuan sama orang negro.
seorang anak smp mungkin bisa keseleo lidah membedakan kata menyerap dan memantulkan. tapi hal itu tidak akan mungkin terjadi pada seorang fotografer, karena kerjaannya memang cuma mikirin sinar yang dipantulkan atau diserap oleh object bidikan lensa.
sekarang terjadi lagi dalam topik midi. roy mengatakan bahwa peralatan midi dapat melakukan sampling (mengambil contoh nada). padahal konsepnya midi adalah messaging/instruction yang bisa dimengerti oleh midi device untuk mengeluarkan bunyi. justru konsep inilah yang membedakan midi dengan wave (yang memang menggunakan sampling).
memang betul sequencer dapat merekam musik yang dimainkan oleh aminoto kosin lalu memainkannya kembali. tapi yang direkam itu bukan audio output, tapi gerakan/ gesture dari aminoto kosin. tuts apa aja yang ditekan dan berapa lama, sama seperti kita kalo lagi bikin macro dalam ms excel. sama sekali bukan sampling.
Keyboard MIDI, tidak harus dapat mengeluarkan bunyi tetapi harus bisa menghasilkan data format MIDI yang bisa dikirimkan melalui konektor MIDI Out. Data tersebut berupa perintah untuk membunyikan nada tertentu dengan beberapa parameter tambahan, misalnya: Bunyikan nada C selama 2 detik dengan kekerasan nada X. Data ini lah yang kemudian dikirimkan melalui konektor MIDI In ke MIDI device untuk mengeluarkan bunyi sesuai data yang dimasukkan sebelumnya (melalui Keyboard MIDI).
Hal ini menjadikan MIDI Device (Synthesizer) mengeluarkan bunyi atas dasar data sesuai dengan perintah (message), tidak seperti kaset/CD ataupun MP3.
Sedangkan sampling adalah mengkonversi sinyal analog (audio) menjadi data digital. dan untuk mem playback nya cukup mengkonversi balik data digital menjadi sinyal analaog lagi. formatnya pun macem-macem, ada cd, wav dan mp3.
seperti halnya fotografer, seorang pakar multi media tentu tau betul kapan dia menggunakan istilah sampling dan messaging.
Acuan
MIDI di Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Midi)

