Pembuktian Keaslian Suara Andi Ghalib dan Habibie
Dari Rangkuman Roy Suryo Watch , ensiklopedi bebas
| Daftar isi |
Kutipan
Setelah rekaman pembicaraan telepon itu dimasukkan ke dalam komputer dan dianalisa menggunakan Audio Spectrum Analyzer sederhana maka bisa divisualisasikan bahwa setiap orang -termasuk Habibie maupun Ghalib- memiliki spektrum suara yang berbeda-beda.
"Kesahihan alat analisa spektrum suara ini akan identik dengan hasil identifikasi sidik jari manusia atau DNA untuk memastikan apakah individu tersebut sama atau tidak," kata Roy Suryo.
Sumber: artikel Roy Suryo Uji Rekaman Percakapan Habibie-Ghalib (http://www.kompas.com/entertainment/news/0204/01/2044.htm) di Kompas dan Bernas.
Sanggahan
Biometrik adalah suatu studi statistikal terhadap fenomena biologis, tapi kita akan berbicara dalam konteks biometrik yang lain yaitu teknologi yang didedikasikan untuk mengidentifikasi individu menggunakan karakteristik biologis seperti retina, iris, sidik jari, ataupun suara. Identifikasi ini dilakukan dengan cara membandingkan sampel dengan data yang telah diketahui pasti berasal dari orang yang bersangkutan.
Dalam kasus Andi Ghalib, Roy Suryo mengklaim bahwa dengan menggunakan PC dan software spectrum analyzer, dia bisa menentukan apakah suara yang ada di rekaman telepon itu palsu atau asli. Dengan kata lain, Roy Suryo mengklaim bahwa teknologi biometrik bisa mengidentifikasi suatu individu dengan tingkat akurasi 100%. Namun kenyataannya, tingkat akurasi biometrik berkisar antara 60% sampai 99.9%.
Roy Suryo juga mengklaim bahwa analisis suara memiliki tingkat kepercayaan yang sama dengan identifikasi melalui sidik jari atau DNA. Namun menurut riset dari The National Center for State Court (NCSC) (http://www.ncsconline.org/), analisis suara jelas-jelas tidak dapat disamakan keakuratannya dengan analisis sidik jari atau DNA. Pada tabel pembanding metoda biometric (http://ctl.ncsc.dni.us/biomet%20web/BMCompare.html), dikatakan bahwa tingkat akurasi dan reliabilitas dari pengenalan suara (speaker recognition) jauh lebih rendah daripada sidik jari (fingerprint) atau DNA. Disebutkan pula bahwa kemungkinan kesalahan positif (false positive) adalah 'medium', tingkatan yang paling rendah dibandingkan metoda biometrik lainnya. Metoda biometrik lain yang memiliki kemungkinan kesalahan positif (false positive) 'medium' hanyalah pengenalan tanda tangan.
Dalam kasus Ghalib, hal ini lebih parah lagi karena yang dipakai adalah rekaman telepon. Kualitas suara telepon sangat rendah (sampling ratenya hanya 8Khz, bandingkan dengan CD Audio yang mencapai 44.1Khz stereo), sehingga kualitas/ketelitian hasil analisis juga rendah. Adanya noise juga mengurangi akurasi pengenalan pembicara.
Disarikan dari tulisan di blog Yohanes (http://opensource.or.id/~yohanes/blog/archives/2004_02.html)
Referensi
- Biometrics Comparison Chart (http://ctl.ncsc.dni.us/biomet%20web/BMCompare.html)
- National Center for State Courts - Court Technology Laboratory (http://ctl.ncsc.dni.us/)
- Biometrics di Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Biometrics)
Catatan
Artikel ini dibuat untuk mempertanyakan keabsahan metodologi yang dilakukan Roy Suryo dalam mengidentifikasi asli tidaknya rekaman pembicaraan tersebut. Artikel ini tidak dibuat untuk menyimpulkan apakah rekaman pembicaraan tersebut asli atau tidak.

