TI-KPU Pahlawan Kesiangan
Dari Rangkuman Roy Suryo Watch , ensiklopedi bebas
Pada tanggal 8 Januari 2005, pernyataan Roy Suryo dikutip oleh harian Suara Merdeka (http://www.suaramerdeka.com) pada artikel dengan judul TI-KPU Pahlawan Kesiangan (http://www.suaramerdeka.com/harian/0501/08/ked07.htm). Berikut adalah kutipan dan sanggahan dari artikel tersebut.
Kutipan
"Pahlawan Kesiangan? Julukan yang paling pantas diberikan kepada para 'pahlawan-pahlawan kesiangan' bernama Tim TI-KPU itu di daerah bencana. Mengapa begitu, karena baru hari-hari ini saja mereka terjun langsung ke lapangan," kata Drs KRMT Roy Suryo Notodiprojo, pakar komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM) menanggapi Tim TI KPU yang ingin ikut membantu infrastruktur telekomunikasi di daerah bencana, Kamis (7/1).
Dalam siaran persnya Roy Suryo menyebutkan, kesiangan karena perangkat yang mereka gunakan hanyalah telepon satelit alias sebuah perangkat yang memang sudah jauh-jauh hari dia usulkan. Bahkan semenjak 3-4 jam setelah kejadian gempa dan badai tsunami (Minggu 26/12), melalui radio swasta yang mengontak dia langsung saat itu juga.
Telepon satelit memang andal, karena bersifat stand-alone. Artinya, tidak bergantung kepada infrastruktur di darat.
"Jadi meski Serambi Mekah rusak total infrastruktur telekomunikasinya, perangkat telepon satelit tetap bisa beroperasi normal," katanya seraya menambahkan, "Sepanjang Satelit Garuda yang berlokasi 36 ribu kilometer di atas Nusantara tidak terganggu secara teknis.'
Sebenarnya dia sudah memberi masukan maupun opini ke berbagai media massa. Memang sudah seharusnya KPU bisa sedikit tergugah dan berbakti kepada negara dalam musibah itu. Karena dalam Pemilu 2004 yang lalu, mereka sudah memiliki 1500-an perangkat telepon satelit yang saat itu dibeli dengan anggaran fantastik, yakni Rp 27 miliar.
"Jadi kalau baru sekarang perangkat itu dibawa perentang-perenteng (show of force) ke daerah bencana, itupun jumlahnya tak lebih 10, rasanya memang sudah cukup terlambat," jelasnya.
Apalagi, tambah Roy, hampir semua operator sudah memulihkan infrastruktur telekomunikasinya. Perlu dicatat, yang dimaksud dengan pahlawan kesiangan itu tentu bukanlah tim internet dari APJII (Heru Nugroho, Valens Riyadi cs) yang berhasil menyet-up internet dari beberapa titik di Banda Aceh, karena tim APJII itu memang sangat diperlukan guna memberi akses internet yang sebelumnya lumpuh total. (sgt-92a)
Sanggahan
- Seusai tugasnya pada 9 Desember 2004, seluruh perangkat komunikasi KPU diserahkan kepada Departemen Dalam Negeri, termasuk di antaranya telepon satelit. Jadi telepon satelit yang digunakan untuk keperluan Pemilu, saat ini sudah tidak dimiliki oleh KPU.
- Kalaupun semua atau sebagian dari telepon satelit tersebut akan dibawa ke Aceh, dibutuhkan upaya tidak sedikit untuk mengumpulkan ribuan perangkat yang tersebar di seluruh Indonesia tersebut. Lebih musykil lagi, lokasi yang diberi kelengkapan telepon satelit adalah lokasi-lokasi yang relatif terpencil.
- Tanpa mengecilkan usaha dari tim Airputih.or.id (yang dimaksud dengan tim APJII di artikel Roy Suryo), tim TI KPU berangkat ke lokasi bencana sejak H+3 (tiba dan mulai bekerja tanggal 30 Desember 2004), satu hari lebih cepat daripada tim Airputih.or.id kedua datang. Valens Riyadi yang dimaksud dalam artikel Roy Suryo termasuk pada rombongan ini.
- Aceh membutuhkan bantuan bahkan sampai 10 tahun ke depan. Jadi tidak ada istilah 'kesiangan' dalam membantu saudara-saudara kita di Aceh.
- Kami tidak akan mengomentari sifat artikel tersebut yang tendensius terhadap pihak-pihak yang berniat membantu korban bencana. Silakan diinterpretasikan sendiri.
Referensi
- KPU Menyerahkan Data Hasil P4B dan Perangkat TI di Tingkat Kecamatan Kepada Depdagri (http://www.kpu.go.id/berita/lihat-dalam.php?ID=736&cat=Berita) dari rilis pers KPU
- Tim Kedua Airputih Berangkat (http://www.acehmediacenter.or.id/id/index.php?dir=news&file=detail&id=59) dari Aceh Media Center

