Sepekan ini
Sepekan ini cukup ramai dengan munculnya tokoh kita di berbagai media. Kemunculan Roy Suryo yang sempat dicatat oleh RSW adalah:
- Kolom Belia di Republika Edisi Minggu. Hal-hal yang perlu disimak adalah sebagai berikut. Katanya untuk mengakses Internet lewat dialup harus mendaftar ke ISP terlebih dahulu (Telkomnet udah tutup ya?). Selain itu, tokoh kita dikutip sebagai mengatakan bahwa Internet bisa didesentralisasi dan diberdayakan.
- Kolom Teknofilia di Majalah Inview (tanggal?). Di sini tokoh antara lain mengatakan bahwa perkembangan era digital masih dalam tingkat yang wajar (yang tidak wajar seperti apa?).
- Tulisan yang mempertanyakan hasil audit BPK terhadap TI KPU di Kedaulatan Rakyat. Tampaknya Roy Suryo tidak puas sebelum TI KPU dinyatakan bersalah. Bagaimana kalau kita usulkan agar tokoh kita diangkat menjadi tim audit TI KPU?
RSW memperoleh tulisan asli tokoh kita yang dikirimnya ke berbagai media massa di Indonesia. Berikut salinan tulisan tersebut.
Korupsi TI-KPU “cuma” Rp. 154.098.910,- ?
KRMT Roy Suryo Notodiprojo
ANEH. Inilah kata yang paling tepat dikemukakan jika melihat Laporan Audit BPK terhadap KPU, khususnya pada pos TI (Teknologi Informasi), yangmana dikatakan bahwa indikasi terjadinya penyimpangan / korupsi adalah “cuma” sebesar Rp. 154.098.910,- atau sangat mencolok dengan temuan-temuan dalam pos lainnya (Surat suara, Kotak, Tinta, dsb) yang totalnya mencapai 90 Milyar. Oleh karena itu, sembari menunggu daftar detail dari penggunaan anggaran total senilai lebih dari 200 Milyar untuk melengkapi dokumen nomor 97/15-A/XI/2004 yang ditandatangani SS (Sekjen KPU) dan ASH (Direktur Utama PT Integrasi) dalam pengadaan TI-KPU pada tanggal 21 November 2003, melalui tulisan ini saya mencoba memberi gambaran keanehan temuan indikasi yang -sekalilagi- “cuma ” 154 juta rupiah dalam `Pekerjaan Raised-floor Data Recovery Center’ TI-KPU tersebut.
Perlu ditegaskan bahwa analisa terhadap daftar detail / spesifikasi teknis hardware-software dan penggunaan total anggaran TI-KPU ini nantinya sangat mutlak ada dan dipergunakan, karena dengan demikian kita bisa menilai secara bersama secara fair apakah setiap point yang dilaporkan tersebut memang terdistribusi dan bekerja sesuai dengan apa yang sudah dianggarkan sebelumnya. Misalnya, apakah pembelian hardware dan softwarenya sesuai dengan spec yang dimaksud, bahkan dinilai juga kelayakan efektifitas dan efisiensinya, juga apakah salary / honor dari semua pekerja dan sukarelawan petugas data-entry di tiap daerah menerima haknya tersebut seperti dengan apa yang dilaporkan, atau mereka (seperti yang sudah banyak dilaporkan dalam berbagai media) ternyata banyak yang harus “kerja rodi” bahkan ada yang bekerja sampai berhari-hari, menghabiskan uang saku pribadi, dsb.
Melalui tulisan ini pula saya mengetuk hati nurani dan mengajak rekan-rekan semuanya di seluruh Indonesia untuk dapat berani mengumpulkan data-data dan fakta-fakta lapangan atas hal tersebut diatas, karena bagaimanapun juga terjadinya penyimpangan apalagi korupsi sekecil apapun di republik ini sedang gencar-gencarnya diberantas. Bantuan dari masyarakat yang masih memiliki hati nurani untuk membongkar kasus korupsi di KPU, khususnya pos TI, akan sangat bermanfaat untuk mengembalikan citra Teknologi Informasi di Indonesia yang sangat terpuruk gara-gara Tim TI-KPU yang menanganinya sangat tidak becus, arogan, bahkan bisa disebut sangat memalukan ini.
Beberapa point yang dapat digunakan sebagai petunjuk awal untuk membongka TI-KPU ini bisa dimulai dari UU Pemilu No. 12 th. 2003 sendiri, yang jelas-jelas hanya mengakui perhitungan manual. Oleh karena itu seharusnya bilapun hanya mau ‘berlatih / mencoba’ menggunakan TI untuk melakukan perhitungan, anggaran untuk membuat “sebuah kalkulator besar” (kalimat ini meminjam istilah dari Prof. Marsudi Kisworo), tidak perlu harus mencapai nilai ratusan milyar. Secara sistem, TI-KPU yang menggunakan sistem terpusat / centralized ini bisa disebut sudah salah besar sehingga sangat boros dan tidak efisien, karena menghabiskan beaya komunikasi untuk Telkom mencapai 19M dan bahkan 27M untuk telepon satelit PSN. Apalagi ternyata dalam kenyataannya di lapangan, TI-KPU hanya akhirnya menjadi lebih mahal, lebih lambat dan lebih tidak akurat dalam segala hal. Catatan: Secara detail, berbagai “kelebihan” TI-KPU diatas sudah pernah pula dipaparkan didepan sidang mahkamah tertinggi di Indonesia, yakni Mahkamah Konstitusi, saat menjelaskan tentang TI-KPU ini. Ironisnya bahkan pengacara KPU sendirilah yang mengingatkan soal hukum TI-KPU dan UU 12/03 tersebut.
Ketidakakuratan dan kesalahan yang sempat dibuat oleh TI-KPU yang bernilai ratusan milyar inipun bisa dikatakan sudah terlalu banyak dan tak terhitung, namun beberapa diantaranya adalah:
- Sistemnya melanggar Grand Design Sistem Informasi / GDSI yang sudah dibiayai negara dan dibuat sangat baik sebelumnya (bahkan Tim-7 GDSI tersebut “dibuang”, tidak dipergunakan oleh KPU yang memilih sendiri orang-orang penggantinya), sehingga Tim-7 GDSI mensomasi ke KPU.
- Hasil perhitungan suara yang beberapakali mendadak naik-turun dalam tampilannya (sehingga harus berulangkali dikoreksi bakan sempat direset kembali) pada angka 4 hingga 100 juta.
- Masuknya perhitungan suara sebelum Pemmilu selesai (padahal jam Pemilu masih berlangsung).
- Namun ada juga kasus lain, dimana Pemilu sudah mulai, ada “suara-suara liar” sempat masuk ke TI-KPU dari operator di lapangan (sehingga data harus di-clean-up lagi ditengah-tengah Pemilu).
- Jumlah kecamatan di Indonesia di hari pertama saja sempat bisa sudah mencapai 8908 (padahal total kecamatan di Indonesia hanya 5117 saja, itupun tidak semuanya ada perangkat TI-KPU).
- Cukup seorang mahasiswa saja, berinitial DF, bisa mengganti-ganti nama-nama Partai menjadi “Partai Jambu, Kolor Ijo” dsb (padahal sistem TI-KPU ini sempat diclaim aman 99,999%).
- Bahkan server yang bernilai puluhan milyar tersebut ternyata “salah info” ketika digunakan untuk mencari identitas dari DF di database penduduk Indonesia didalamnya, dimana hal ini sempat membuat Tim Cybercrime dari Polda Metro tersesat ke Cianjur (padahal DF berlokasi di Jakarta).
- Kesalahan inipun terus berlangsung hingga setelah perhitunan akhir manual selesai dilakukan, dimana jumlah total suara TI-KPU hanya bisa mencapai angka 106.914.202 (dari total 118.656.868) suara saat Pilpres pertama, alias ada suara yang “hilang” dalam TI-KPU ini sebesar 11.742.659 suara (atau 10% dari pemilih). Sempat diketahui pula TI-KPU sempat mau “meralat” dan menyamakan angkanya, meski perhitungan manual sudah ditutup beberapa hari sebelumnya
Semua kesalahan TI-KPU diatas bukan hanya lesan, saya memiliki lengkap semua bukti otentik capturenya dan siap dipertanggungjawabkan, karena merekam day-by-day semua data dari TI-KPU.
Soal audit juga harus dipertanyakan, sebab jangankan pernah diaudit teknologinya dengan menggunakan metode COBIT (Control Objectives for Information & Related Technology), sebab pada tanggal 29 Oktober 2004 di Hotel Acasia, saat berlangsung Acara Buka bersama yang diselenggarakan oleh Koaliasi LSM untuk Pemilu bersih, staf BPK Bp. Haryanto membuka tabir bahwa ternyata TI-KPU sampai pada saat tersebut belum pernah diaudit sama sekali, saat itu beliau mengatakan bahwa ternyata ada seorang pensiunan pegawai BPK yang bekerja di KPU. Jadi yang selama ini dikatakan selalu “sudah diaudit 3-4 bulan sekali oleh BPK” adalah sebuah kebohongan publik! Ini sangat tidak pantas dilakukan oleh lembaga KPU yang disebut-sebut paling bermartabat di Indonesia tersebut.
Kesimpulannya temuan angka Rp. 154.098.910,- ini jelas-jelas masih sangat prematur, karena baru bisa menyentuh temuan di pekerjaan raised-floor (baca: lantai) pada Data Recovery Center. Semua Insyaallah akan terbuka nantinya setelah spesifikasi detail dalam laporan diperbandingkan point-to-point dengan fakta di lapangan, oleh karena itu sekalilagi dihimbau agar seluruh masyarakat Indonesia yang masih memiliki hati nurani untuk bersama-sama berani membongkar indikasi adanya penyimpangan / korupsi di KPU, khususnya posTI ini dengan cara segera memberi informasi detail data dan fakta dilapangan, sehingga hasil akhirnya bisa menggambarkan fakta yang sebenarnya. Dengan demikian kalau “lantainya” saja sudah ada temuan penyimpangan 154 Juta, berapa angka yang nantinya akan benar-benar muncul untuk perangkat mahal TI-KPU diatasnya? Wallahualam …
31 Comments »
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>
Asyik.. yg pertama
Hi Roy
Comment by m.rendra — 30/4/2005 @ 9:44 pm
oalah, ternyata gosip soal pensiunan karyawan BPK dari sini toh.
Comment by ryosaeba — 30/4/2005 @ 11:56 pm
Hi Rooooooooiii!
Comment by top deh — 1/5/2005 @ 12:42 am
boleh aja diangkat jadi tim audit KPU, tapi jangan digaji.. lha wong dia memang maunya supaya dapat proyek kok.
Comment by top deh — 1/5/2005 @ 12:58 am
…bahwa seorang Roy Suryo yang mengaku dirinya sangat berkompeten ternyata tidak mengerti apa itu fungsi Redirect dari mail client Eudora…
Comment by ryosaeba — 1/5/2005 @ 10:52 am
apapun problemnya, siapapun tokohnya yang penting itu…….
Hi Roy!™
Comment by dudi — 1/5/2005 @ 7:39 pm
ck ck ck. Adakah cara untuk membungkam mulut bapak yang satu ini ? Udah bosen gw denger tong kosong. Mending dengerin orang nabuh beduk deh.
Comment by bah — 2/5/2005 @ 1:46 pm
Hey orang-orang yang berpikiran sempit! Baca sekali lagi tulisan Roy di atas, dan sebut kritik yang mana yang tidak beralasan. Apakah anda-anda lebih suka semua orang menerima apa kata pemerintah, kpu, dll. dengan pasrah? Sana kembali ke jaman Suharto! Memang ini dampak negatif sistem pendidikan era orde baru, seperti yang ditulis Priyadi, banyak orang kehilangan kemampuan berpikir kritis.
Ada isu KPU berencana menuntut Roy. Kalau benar, ini kekanak-kanakan sekali. Kalau memang KPU merasa bahwa Roy salah, buka semua data-data yang ada, biar rakyat yang menilai siapa yang bohong. Seandainya memang benar Roy suka berbohong, toh lama kelamaan rakyat, termasuk wartawan, akan jenuh juga dan tidak menghiraukan dia. Kenyataannya KPU hanya bicara dan bicara tanpa memperlihatkan data pendukung yang jelas. Kalau KPU merasa bahwa rakyat akan menerima semua kata-kata mereka sebagai fakta, hanya karena mereka punya url berdomain .go.id , ITU SALAH BESAR! Suharto sudah lengser, jenderal!
Comment by RSWW — 3/5/2005 @ 7:15 am
#8 Anda benar sekali. Apa sih hebatnya pake domain .go.id? Mending pake subdomain .blogspot.com.
*Saya nggak sentimentil karena cuma pake tanda tanya*
Comment by sengsara — 3/5/2005 @ 2:22 pm
#8 banyak pake tanda seru yah, pasti lagi sentimentil.
Comment by ryosaeba — 4/5/2005 @ 10:24 am
Memang masih suka akan ketenaran, Pak Roi… Masih banyak dan masih jauh usaha Anda. Hati-hati bagi para usahawan, pegawai dan pejabat tinggi yang hendak bekerjasama dengan beliau. Ada indikasi baru, sang XROY ini sedang mengobrak-abrik data2 Bank yang ada di Indonesia (mungkin dia salah satu yang harus dicurigai permasalahan kredit macet Bank Mandiri), serta data-data pemerintah Indonesia, dan data-data teman/sahabat/musuh/kenalan dekat beliau. Harap Berhati-hati. Disisi lain ternyata beliaunya ini : Musuh Dalam Selimut kita semua… di depan baik, di belakang ??? Kita tunggu saja.
Salam.
Comment by Sonny Riandika — 8/5/2005 @ 8:49 pm
Roy Suryo ga disogok kan..?
Comment by Rendy Maulana — 9/5/2005 @ 5:54 pm
hai suuu ryo
Comment by suket — 22/5/2005 @ 1:21 am
Penasaran, sebenernya “pakar” yang satu ini beneran dosen UGM kah ? Yg dari UGM ada yg bisa mengklarifikasi ? kok malah pernah denger cuma dosen tamu di ISI.
Comment by wongiseng — 23/5/2005 @ 6:13 pm
:)
Comment by cengoh — 29/5/2005 @ 3:17 am
#8 RSWW:
“Seandainya memang benar Roy suka berbohong, toh lama kelamaan rakyat, termasuk wartawan, akan jenuh juga dan tidak menghiraukan dia.”
apakah anda bisa menelaah kenapa sekarang banyak sekali orang (RAKYAT per-internet-an; dalam hal ini yang mengerti dan cukup bisa dikatakan berkompeten untuk berkomentar) yang jenuh mendengarkan dan membaca apa yang dikatakan dan ditulis oleh KRMT Roy Suryo? hal ini bisa anda lihat sendiri kan dengan banyaknya tulisan - komentar (dan tentu saja, website ini) yang mengkritik mas Roy?
kenapa bisa begitu? ya kembalikan saja pada apa yang anda tulis.
Comment by poetra — 31/5/2005 @ 6:12 am
Catatan: Secara detail, berbagai “kelebihan” TI-KPU diatas sudah pernah pula dipaparkan didepan sidang mahkamah tertinggi di Indonesia, yakni Mahkamah Konstitusi
Mahkamah Tertinggi? Bukankah itu Mahkamah Agung? Ini namanya kriminal. Pembodohan bangsa secara terang-terangan. Bukankah Mahkamah Konstitusi hanya berhak menilai keputusan politik, peraturan dan perundang-undangan, dan bukannya melakukan proses peradilan perkara sebagaimana mahkamah “normal”?
Comment by Agung K. — 6/6/2005 @ 2:08 pm
yah kalo yang ini sieh gw rada setuju apa kata pak Raden ini. Nothing personal with ’such a creature’ like Roy Suryo. Cuma gw berharap kalo orang yang sudah berkoar-koar selama ini ketika masuk sistem gak lupa dengan semua yang pernah dia omongin dulu.
Comment by Mom Any — 16/6/2005 @ 10:05 am
boseeeen denger nama roy suryo
Comment by anonim — 16/6/2005 @ 1:11 pm
lihat Lepas Malam Trans TV tgl 15/06/2005 gak???
Roy Suryo yg “tahu” segala hal, mendesak Artika Sari Devi untuk mengakui kalu foto bugil *mirip artika* benar-benar foto dirinya !!
eh ternyata itu foto WARIA!!
berikut ling dari detikhot:
http://www.detikhot.com/index.php/tainment.read/tahun/2005/bulan/06/tgl/16/time/133750/idnews/382569/idkanal/230
hi ROY!!!
Comment by Reza Yazdi — 16/6/2005 @ 8:26 pm
hi..daddy Roy….
Comment by anaknyaroy — 26/6/2005 @ 10:42 am
hihihi…situs menarik. tetap semangat, membasmi kebodohan!!
Comment by ~listi~ — 2/7/2005 @ 8:45 am
Kalau saya sih. mendingan cari angin saja. orang-orang di sana kan sebagian ada yang suka disogok. sebagian ada yang tidak suka tapi ngiler. sebagian ada yang anti sogok. Nah, antara kelompok-kelompok ini pasti selalu terjadi pertempuran abadi ya seperti antara jin, iblis, setan dan malaekat.
Maklum. Itulah Tuhan yang menceiptakan mereka. biar dunia ini rame dan gayeng. Bukan hanya gayeng oleh goyangnya Inul dan kawan-kawan. juga bukan hanya gayeng oleh goyangnya para penari telanjang yang dikecam banyak kalangan. tapi juga gayeng dengan intrik-intrik para koruptor kakap. gayeng oleh goyangnya kawan-kawan pejabat yang suka disogok oleh para makelar bisnis yang sedang mencari untung sendiri…
silahkan bertempur…..
silahkan korbankan orang-orang kecil….
silahkan puaskan kontol sampeyan semua….
tapi tanpa kau sadari….
hidupmu tidak lama lagi
akan berakhir.
Kamu akan mati semua.
Mumpung masih hidup puaskan dirimu
dengan wanita-wanita telanjang
dengan harta rampasan dari rakyat-rakyat kecil
dengan hasil bumi, kekayaan alam yang ada di bumi ini
silahkan
tapi mudah-mudahan kau lupa
kau akan mati
segera
Comment by jomblo edan — 9/7/2005 @ 4:55 pm
kampret!!
Comment by basara — 11/7/2005 @ 11:40 pm
Oh mas Roy,
Memang pada dasarnya secara genetik itu model rahangnya orang Indonesia itu bagus jadi cocok buat komentar, hobinya juga komentar. Btw kalian yang pada komentar di sini ini sudah berkontribusi apa pada dunia IT di sini? Aku bukannya belain si Roy, aku juga nggak suka dia. At least, sekali lagi -at least- dia sudah “mempopulerkan” IT ke masyarakat awam, meski ngawurnya nggak ketulungan. BTW, ni situs mana adminnya sih? Mbok yao komentarnya itu diatur. Biar situs ini lebih kredible kalau dijadikan referensi. Yang cuman komentar “kampret” atau “say hi” mending duduk aja dan baca ya, gak usah comment di sini. Cuman nulis gitu tanpa mikir sih anak TK juga bisa. Mendingan nih kalian klik start (di pojok kiri bawah layar itu lho) trus pilih program, trus accessories trus klik notepad. Nah silahkan ketik “kampret” atau “Hi Roy” sepuasnya OK?.
Btw, aku baca di sini kalau Roy gak punya web pribadi ya? Pasti gak bisa bikin, mau minta dibikinin malu.. terus nanti takut di hack, di deface segala macam sama orang-orang yang dendam sama dia.
peace yao!!
Comment by boku_baka — 21/7/2005 @ 9:22 am
wah negeri ini, orang ingin berbuat baik pun jadi salah,
negeri edannnnnnn….
lebih baik komen ke diri masing2 aza, udah bener ngga: lu dengan adik lu, mamak lu, dengan abang lu, dengan saudara lu, dll.
mari cari solusi.
Comment by HBB — 29/7/2005 @ 5:06 pm
mari cari solusi, bukan intimidasi man…
ngga usah ngiri sama orang yang udah top…udah rejekinya nkali lah..
skrg coba fikirkan: bgmn caranya biar gua bisa gantikan dia,
cari caranya…
Comment by twy — 29/7/2005 @ 5:10 pm
roy suryo sapa toh???
Comment by onedol — 30/8/2005 @ 11:32 am
semoga kebodohan di negeri ini cepat pergi….
Comment by Tj_cool — 22/9/2005 @ 11:01 am
MUDAH2AN INI ADALAH KORUPSI YG TERAKHIR DI NEGARA KITA.AMIEN
Comment by AGAN — 8/10/2005 @ 12:18 pm
apa kabar mas Roy?
….]
saya baru “nemu” situs nandalem siang ini,…
terus terang (belum tentu terang terus), saya belum sempat ngaduk2 & baca,
anyway, keep situs ini tetap eksis, … bravo dan sukses selalu!!!
[dari sahabat lama yg sedang mumet ttg FWA di DIY ….
Comment by sasongko — 8/11/2005 @ 12:59 pm