Tulisan Tendensius
Kedaulatan Rakyat tanggal 4 Januari 2005 menurunkan tulisan berjudul Komunikasi Bencana yang ditulis oleh tokoh kita. http://www.kedaulatan-rakyat.com/article.php?sid=6326. Yang lucu adalah nuansa rasa jengkelnya terhadap KPU terasa benar. Para pembaca silakan menilai sendiri.
Komunikasi Bencana
BENCANA Tsunami yang melanda Aceh dan Sumatera Utara hingga ke Kepulauan Maladewa, India, Thailand dan sebagian negara-negara Asia lainnya memang sangat memilukan. Korban dari Indonesia saja diperkirakan akan mencapai angka 100.000 jiwa bila nantinya sudah dihitung rinci, karena angka-angka prakiraan yang sekarang muncul belum diperbandingkan dengan database keseluruhan penduduk asli dari tiap-tiap wilayah tersebut. Masalahnya adalah KPU yang saat Pemilu lalu mengumbar statemen bahwa mereka memiliki database rinci tersebut sampai kini masih diam seribu bahasa. Padahal kalau KPU mau berbakti kepada negara, inilah saatnya bisa membuktikan kecanggihan perangkat komputer server yang dulu dibeli ratusan miliar rupiah tersebut.
Akan tetapi tulisan ini tidak akan hanya fokus ke masalah angka korban yang hingga kini belum jelas tersebut, tetapi lebih kepada kekurangkoordinasian (baca: kesemrawutan) komando bantuan kemanusiaan yang hingga kini masih menumpuk di berbagai
posko dan bahkan bandara, padahal antusiasme kegotongroyongan masyarakat Indonesia dalam memberikan sumbangan tersebut masih sangat patut dibanggakan. Jika dicermati, dalam tragedi ini terjadi kelemahan dalam proses komunikasi (sekaligus informasi) yang mengakibatkan koordinasi penanganannya menjadi tumpang-tindih. Padahal jika sejak awal pemerintah didukung semua elemen masyarakat dapat mempergunakan sarana komunikasi yang memadai, niscaya hal tersebut tidak akan terjadi.
Sebenarnya semenjak hari pertama saja hal tersebut sudah terlihat, karena penulis yang sempat dikontak pertamakalinya oleh sebuah radio swasta di Jakarta sekitar pukul 11.00 WIB tanggal 26 Desember 2004 lalu, sudah langsung ditanya dengan langkah-langkah apa yang sebaiknya dilakukan oleh pemerintah. Ketika itu langsung terbayang rusaknya infrastruktur komunikasi yang ada, karena mengingat dampak gempa dan tsunami biasanya sangat dahsyat. Tidak berlebihan saat itu sudah sempat penulis usulkan untuk langsung memanfaatkan sarana telepon satelit, komunikasi melalui gelombang radio amatir dan bahkan disinggung juga upaya pembangungan infrastruktur telekomunikasi seluler darurat menggunakan berbagai BTS (Base Transceiver Station) atau RBS (Radio Base Station) portable yang bisa dipindahkan lokasinya.
Namun ternyata hal tersebut tidak cepat dilakukan, karena jangankan langsung bicara mengenai rusaknya 45.318 SST (Satuan Sambungan Telepon) yang berada di daerah tersebut dan upaya pemulihannya, ketika radio yang sama menanyakan kepada salah seorang jurubicara Presiden, ternyata ybs justru balik meminta informasi dari radio yang bersangkutan tentang apa yang terjadi untuk segera dilaporkan kepada presiden! Oleh karena itu tidaklah heran bahwa hari-hari berikutnya masyarakat tampak terlihat lebih percaya kepada upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak-pihak swasta yang didukung media massa, dibandingkan upaya resmi pemerintah.
Dengan demikian masalah komunikasi dalam penanganan tragedi Tsunami yang melanda Bumi Pertiwi kemarin cukup vital, karena menyangkut komunikasi dalam penanganan internal bencana tersebut dan bagaimana kemudian mengkomunikasikannya kepada masyarakat. Bila salah satu (atau bahkan yang terjadi adalah kedua-duanya) kurang dilakukan dengan baik, maka yang terjadi adalah masyarakat bisa melihat seperti hari-hari pertama kemarin, dimana peran pemerintah kemudian seperti tertinggal oleh swasta. Apalagi dalam berbagai pemberitaan di berbagai media, masyarakat kemudian menjadi sangat percaya kepada media-media tersebut untuk menjadi saluran komunikasi dan informasi dua arahnya. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya support masyarakat dalam mengirimkan partisipasinya berupa ‘Video-video Amatir’.
Meski peran aktif media seperti ini tidak salah, karena media massa adalah juga sebagai ‘The Fourth Stage of Communication’ di sebuah negara, tetapi jika kemudian pemerintah tampak keteteran dengan peran swasta maka lambat laun akan mengancam juga kredibilitasnya. Oleh karena itu seharusnya di sinilah para pembantu presiden dalam bidang-bidang yang langsung terkait (Menkopolkam, Menko Kesra, Mensos, Menkes, Menegkominfo, Menhubtel, dsb) segera mengambil peran yang proporsif agar komunikasi (baca: penanganan) bencana berjalan baik.
Secara lebih rinci khususnya dalam bidang telekomunikasi, telepon satelit yang langsung diusulkan penulis adalah entry-point yang paling jitu. Sebab perangkat yang tidak terbatas ruang dan waktu (alias ‘stand-alone’) ini langsung bisa berhubungan melalui satelit yang berada 36.000 km di atas bumi, meski infrastruktur di daratan hancur total seperti di Aceh dan Sumatera Utara tersebut. Saat itu pula sempat diusulkan juga untuk menggunakan sekitar 1500 Telepon Satelit ex-KPU yang dahulu sudah dibeli dengan dana sekitar 27 Miliar, karena daripada sekarang tidak jelas fungsinya. Akan tetapi lagi-lagi usulan penulis tersebut direspon dingin oleh KPU.
Setelah telepon satelit ‘membuka jalan’, baru kemudian diupayakan komunikasi langsung menggunakan gelombang radio yang difasilitasi oleh ORARI dan RAPI (juga perangkat radio milik TNI-Polri), karena praktis pembangunan sebuah stasiun pemancar-dan-penerima ini relatif lebih cepat dibandingkan dengan infrastruktur telepon seluler. Namun bila kondisinya sudah memadai, para operator telepon seluler, baik berbasis CDMA (Code Division Multiple Access) maupun GSM (Global System for Mobile-communication) membangun kembali BTS/RBS-nya tersebut. Dalam hal ini penulis sempat pula memberikan training kepada para relawan & wartawan yang berangkat ke daerah bencana tersebut untuk mengerti hal-hal teknis telekomunikasi, misalnya penggunaan External-antenna CDMA / GSM yang bisa memperluas jangkauan dari BTS/RBS hingga 25km, dsb. Kini setelah seminggu bencana terjadi, komunikasi data-pun mulai bisa dilakukan dari beberapa titik lokasi (misalnya posko, rumahsakit, dsb) dengan masuknya jaringan internet yang bisa diakses langsung karena Wasantara-Net, Telkomnet-Instant dan APJII sudah memfasilitasinya.
Kesimpulannya, meski tragedi adalah murni Kuasa dari Allah SWT, akan tetapi sebagai manusia kita tidak boleh hanya menangis (baca: pasrah) saja dan tidak berbuat apa-apa. Kuncinya memang ada di pemanfaatan Komunikasi dan Informasi yang memadai. ( Penulis adalah Pemerhati Multimedia.)-z
17 Comments
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Sorry, the comment form is closed at this time.
hi roy!
gw pertama
Comment by idban — 11/1/2005 @ 10:38 pm
hi roy!
Horeee! Saya kedua!
Comment by sengsara — 13/1/2005 @ 9:25 am
hi roy!
*udah males liat roy*
Comment by arjuna — 13/1/2005 @ 10:49 am
hi roy
kok gue ikut²an sih
Comment by godote — 15/1/2005 @ 12:27 am
Ganti ah..
Oh Roy!
Comment by Roel Dijkstra — 15/1/2005 @ 9:06 am
“Sebab perangkat yang tidak terbatas ruang dan waktu (alias ‘stand-alone’)”
istilah dari mana nich?
Comment by mas roi — 19/1/2005 @ 11:43 am
Kenapa ko’ mas2 begitu anti dengan seseorang seperti ini ?
Tokh baik roy suryo atau pakar2 it kita atau mas-mas sendiri atau bahkan saya belum punya prestasi apa-apa di tingkat dunia.
Nggak ada dari kita yang merumuskan kembali teori sehebat teori kuantum atau gravitasi. Pun nggak ada yang sebrilyan bill gates atau habibie yang mampu menorehkan faktor patahan sayap.
Lha, wong sesama “belum apa2″ ko begitu sengitnya saling membenci ???
Apa dengan pamer sejuta sertifikasi administrator, security sudah merasa top banget ???
Jangan gitu akh… anda dan saya kan cuma user yang “menggunakan” atau “menjalankan” konsep yang dirancang orang2 silicon valey itu.
Kita ini belum jadi konseptor dan implementator ulung yang mampu melakukan revolusi teknologi atau sedikitnya mengubah idiom2 yg ada.
kalo ada sarjana non it mencoba ngomentari it mbok ya nggak usah berprasangka apa2…
Lalu apakah anda-anda yang memiliki background IT sanggup menulis review tentang politik atau masalah sosial lainnya ????
JANGAN TERLALU PICIK LAHHHHH
Comment by rajalele — 20/1/2005 @ 4:56 pm
hi roy!
Comment by kroni anti Roy — 22/1/2005 @ 5:09 pm
err… bukannya data kpu terbatas 17 thn keatas / yg boleh ikut pemilu? trus korban anak2 gimana dong? *stupid comment*
Comment by dee — 31/1/2005 @ 9:41 pm
Dari Kita Untuk Dia - Ayuk Ikutan!
What: “Pesan Cinta Blogger Indonesia” adalah gerakan blogger Indonesia untuk mendedikasikan hari Valentine 14 Februari 2005 bagi Roy Suryo
Why: Karena kita ingin merayakan hari Valentine dan juga ingin menjawab pernyataan-pernyataan
Trackback by angkringan.or.id — 14/2/2005 @ 1:52 pm
Sh!t
aku gak mau ikut2an ber - Hi Roy, walo aku sendiri nggak suka sama ciptaan Tuhan yang satu ini. Bukan secara fisik, tapi idenya dan keserakahannya utk mendikte dunia internet menjadi seperti rumahnya sendiri dimana ia yang menentukan apa yang boleh atau tidak (Mas… ini bukan keratonmu!!).
Jauh sebelum tsunami melanda tanah kami, Aceh, kami bahkan tdk tahu apa-apa tentang Raden Mas Roy Suryo ini. Not at all.. kecuali utk hipotesanya tentang alm. Sukma Ayu. Itupun hanya yang suka dengan dunia multimedia dan yang melek IT yang suka baca2 hal semacam itu. Ia bahkan disini tdk lebih tenar dari Pak Onno, Pak Made Wiryana, Rusmanto MDAMT atau rekan sejawat mereka.
So what about Roy Suryo?!
Begini: sebagai putra aceh asli, tetesan darah endatu Aceh jaman, saya tidak mengijinkan (secara pribadi tentunya) dengan acehnya saya ada orang yang mau cari tenar melalui kasus Aceh. That’s sucks!!
Toh.. meski terlambat, namun tim IT KPU yang datang kesini sudah bekerja cukup baik… sekali lagi.. walau ini terlambat! Tapi.. yang kami butuh itu adalah orang yang bekerja dan bukan ngoceh di balik meja sana. Bukan press release. Bukan amat-mengamati-nya seorang yang merasa “Pengamat". We need help…
Lihat saja aktifnya koneksi internet di Aceh. Dan, apa katanya? Yang harus dibangun itu yang di pulau?! Berapa orang dari nelayan itu yang tahu memencet tombol keyboard atau sekedar meng-klik mouse? Ini fakta. Aceh bahkan tertinggal begitu jauh dalam hal TI dibanding dengan sebuah pulau Batam. Apa Bung Roy Suryo pernah berbuat sesuatu utk hal ini?
Mengenai blog dan email gratisan.. just f#ck off with that! Kami tidak memiliki ISP yang terjangkau di sini. Uang yang diberi oleh orangtua bagi mahasiswa Aceh tdk masuk anggaran utk bayar layanan email resmi demi sebuah prestise. Yang kami butuh akses informasi. Toh… cukup banyak bahkan dosen di kmapus sendiri yang memakai email gratis. Apa itu melanggar peraturan sejenis PP 10 ? Tidak kan?
You’re NATO! = No Action Talk Only
give me something break if u want it too… on [email protected] (ini email gratisan!!)
Mahasiswa FMIPA Fisika Unsyiah.
Comment by A.R. Hidayat — 23/2/2005 @ 2:48 am
Aku setuju… Yang aku lihat dan dengar.. Bung Roy Suryo ini memang tidak terlalu ikut memperjuangkan IT sendiri sebagaimana mestinya seperti teman2 yang lain.. Onnno.W.Purbo dkk..
perjuangan Bung Roy Suryo ini sudah terinterferensi ama pemerintah..
Kalo saya Jadi Roy Suryo, pasti saya udah beli topeng..
Anda tau sendiri, bahwa IT itu paling anti Birokrasi..
saya setuju dengan pendapat
“mendikte dunia internet menjadi seperti rumahnya sendiri”
Comment by tupic — 1/3/2005 @ 8:58 pm
Liat aja web kpu buat Bencana Tsunami Aceh http://tnas.kpu.go.id/.
Jangan asal ngomong, tapi BERGERAK ..Dul KAMPRET (KMPRT)..
Comment by Maryanto — 10/3/2005 @ 5:22 pm
kita(ORARI) ada di lapangan seluruh lokasi bencana NAD … emang sih kita ngak dilirik ama satkorlak, walaupun kita tetap menjalan kan yang bisa kami kerjakan… para penentu keputusan emang ngak tahu sih yang harusnya dilakukan… jdnya tumpang tindih… koordinatornya kurang ok…
Comment by didi — 20/3/2005 @ 6:24 pm
Roy Suryo itu bener2 ‘pakar’ kok alias ‘apa-apa dibikin sukar’
)
Comment by err — 20/3/2005 @ 9:47 pm
hi roy, you’re excellent!!
Comment by George Wardiman Bush — 27/5/2005 @ 9:36 am
horeeeeeeeeeeeeeeeeee
Comment by boy — 26/6/2005 @ 2:31 pm